sentiment.co.id – Kisah rumah angker di Pondok Ungu Permai Bekasi viral di medsos sejak 18 Oktober 2025, netizen campur merinding “bayangan hitam di cermin brutal, sumpah Bekasi horornya nyata!” dan skeptis “sugesti keluarga, tapi ngeri kalau benar—pindah tiga kali masih ikut!”, soroti teror mistis di perumahan elit yang bikin warga trauma seumur hidup.
Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara, adalah perumahan elit yang dibangun di tahun 2010-an. Jalan-jalan rapi, taman hijau, dan rumah-rumah bergaya modern minimalis menjanjikan kehidupan tenang bagi keluarga muda. Harga properti naik 30% sejak pandemi, menarik ribuan pekerja Jakarta yang bosan macet. Tapi bagi keluarga Ica, pindah ke sana pada 2018 adalah kesalahan terbesar. “Rumah itu luas, tapi dingin seperti kubur,” kenang Ica, ibu dua anak, dalam wawancara anonim. Cerita Ica bukan gosip; ia adalah pengakuan yang diungkapkan di grup warga Bekasi, yang kini jadi legenda urban. Malam pertama, anak sulungnya, Rina (5 tahun), teriak melihat “wanita berbaju putih di kamar mandi”. Awalnya dianggap mimpi buruk, tapi kejadian berulang. Suami Ica, Andi, insinyur di pabrik terdekat, sering terbangun jam 3 pagi oleh suara langkah kaki di koridor. “Thump-thump-thump, seperti orang berat jalannya, tapi tak ada siapa-siapa,” katanya. Mereka tertawa, bilang “mungkin tetangga baru”. Tapi gelak itu cepat pudar.
Pagi hari kedua, Ica bangun dengan bau amis menusuk hidung. Dapur bersih, tapi wastafel penuh air keruh seperti rawa. “Saya bilang ke Andi, ‘Mungkin pipa bocor.’ Tapi airnya dingin, dan ada ikan kecil mati di dalamnya,” ingat Ica. Mereka panggil tukang ledeng, tapi tak ada kebocoran. Malam itu, Rina menolak tidur. “Ada tangan dingin pegang kaki Mama,” isaknya. Ica peluk anaknya, tapi merasakan sentuhan itu—dingin, lengket, seperti lumut basah. Mereka pindah kamar, tapi malam berikutnya, suara bisik terdengar dari dinding: “Pulang… pulanglah…” Andi, yang skeptis, pasang kamera CCTV. Hasilnya? Bayangan hitam melintas koridor jam 02.45, bentuk wanita berpakaian putih, tapi wajahnya kabur seperti kabut.
Teror memuncak saat Ica hamil anak kedua. “Saya sering muntah darah, dokter bilang normal kehamilan. Tapi malam-malam, saya lihat bayangan itu di cermin—bukan refleksi saya, tapi wanita pucat dengan mata kosong.” Ica ingat legenda lokal: Pondok Ungu dibangun di atas bekas makam massal era 1965. “Rawa purba, katanya, airnya bawa roh. Mereka tak suka orang baru.” Keluarga pindah ke rumah sebelah, tapi “energi itu ikut”. Anak kedua lahir prematur, dokter bilang stres ibu. Rina mulai bicara sendiri, “Kakak perempuan bilang Mama jahat.” Andi, yang biasa rasional, mulai minum obat tidur. “Saya dengar suara anak menangis dari plafon, tapi rumah kosong.”
Puncaknya, malam Jumat ketiga, Ica terbangun oleh jeritan Rina. Anaknya berdiri di tengah kamar, mata terbuka lebar, bicara suara bukan miliknya: “Rumah ini milik kami… pulanglah sebelum kami ambil anakmu.” Ica panik, angkat Rina, tapi lantai basah—air merah seperti darah. Mereka lari ke kamar Andi, tapi pintu terkunci dari dalam. Andi tak ada; hanya bayangan hitam duduk di tempat tidur. “Dia bilang ‘saya capek, biarkan saja’,” isak Ica. Mereka pindah lagi ke apartemen, tapi mimpi buruk ikut. Rina gambar wanita putih setiap hari, “Itu kakak yang tinggal di rumah lama.”
Warga Pondok Ungu bisik-bisik. “Rumah nomor 12 angker,” kata tetangga. Legenda: Dibangun di bekas rawa ritual, wanita bunuh diri 1990-an karena selingkuh, rohnya tuntut keluarga bahagia. “Mereka pindah tiga kali, tapi kutukan ikut—energi negatif rawa.” Ica cerita ke grup WA, “Saya nggak bohong, rumah itu hidup.” Netizen: “Ngeri, pindah tak cukup—Bekasi angker brutal!” Skeptis: “Sugesti, tapi sumpah merinding.” Harap: “Cerita pelajaran, jangan bangun di rawa purba.”
Kisah Ica jadi peringatan: Pondok Ungu indah siang, tapi malam… siap-saat dengar bisik.
Komentar